Kontradiksi Krisis Literasi dan Menggeliatnya Minat Baca Gen Z: Fakta atau Mitos?

07 June 2026 | Admin Amikom Press
Featured Image

Purwokerto — Dunia pendidikan global belakangan ini dikejutkan oleh fenomena di Amerika Serikat (AS), di mana banyak mahasiswa Generasi Z dilaporkan kesulitan membaca dan memahami kalimat pendek dalam konteks akademik. Krisis serupa juga membayangi Indonesia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengungkapkan bahwa rendahnya skor PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia berakar dari dua faktor yang tidak terpisahkan, yaitu tingkat literasi dan numerasi anak bangsa yang masih minim. Akibatnya, kerap kali soal matematika yang dijelaskan dalam bentuk narasi atau soal cerita gagal dipecahkan oleh anak-anak hanya karena mereka malas membaca dan gagal mencerna maksud bacaan tersebut.

Namun, benarkah paradigma bahwa Gen Z sepenuhnya malas membaca? Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Arys Hilman Nugraha, mengungkapkan fakta yang justru sebaliknya. Dalam Seminar Nasional "Merawat Pustaka dan Memartabatkan Bangsa" yang digelar oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia secara hibrida pada Selasa (12/5/2026), Arys menyoroti meningkatnya ketertarikan generasi muda terhadap buku dan perpustakaan. Menurutnya, hasil riset industri perbukuan menunjukkan tren positif. "Alhamdulillahnya, ini hasil survei akhir tahun 2025. Bahwa anak-anak kita itu suka membaca," ujarnya optimis di hadapan peserta seminar daring dan luring.

Fakta ini diperkuat oleh data riset teranyar dari lembaga survei Jakpat pada akhir tahun 2025 yang mencatat bahwa tingkat aktivitas membaca Gen Z di Indonesia berhasil mencapai angka 26 persen. Angka tersebut menempatkan Gen Z sebagai kelompok usia dengan tingkat aktivitas membaca tertinggi, melampaui generasi Milenial yang berada di angka 20 persen dan Gen X yang hanya sebesar 18 persen. Lonjakan minat ini selaras dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kenaikan indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional dari 66,77 pada tahun 2023 menjadi 72,44 pada akhir tahun 2024. Bahkan, salah satu jaringan ritel buku terbesar di Indonesia, Gramedia, melaporkan lonjakan penjualan hingga 72 persen yang didorong kuat oleh antusiasme literasi generasi muda ini.

Meningkatnya minat baca di kalangan anak muda Indonesia saat ini dipengaruhi oleh pergeseran faktor gaya hidup dan pencarian identitas di era digital. Bagi Gen Z, membaca kini tidak lagi dipandang semata-mata sebagai kewajiban akademik yang menjemukan, melainkan bertransformasi menjadi bagian dari tren gaya hidup sehat (digital detox) untuk menenangkan pikiran dari kepungan konten video pendek yang berulang. Selain itu, masifnya komunitas pembaca di media sosial, seperti tren BookTok di TikTok dan Bookstagram di Instagram, menjadi faktor eksternal yang sangat kuat dalam membangun ekosistem membaca yang organik, estetik, dan interaktif bagi anak muda.

Kendati minat baca menunjukkan grafik yang menggembirakan, tantangan besar dalam menyelaraskan kegemaran ini dengan kemampuan literasi kritis masih menanti. Para pengamat menekankan bahwa tingginya aktivitas membaca Gen Z saat ini belum otomatis berbanding lurus dengan kemampuan mereka dalam memproses informasi yang kompleks dan mendalam. Oleh karena itu, faktor keterjangkauan harga buku, ketersediaan akses e-book di perpustakaan daerah, serta inovasi metode pembelajaran di sekolah yang memaksa siswa mengkritisi—bukan sekadar membaca teks ringkas—menjadi kunci utama agar momentum gairah membaca Gen Z ini dapat menyelamatkan Indonesia dari jerat krisis literasi.


Bagikan: WhatsApp
Ingin Menerbitkan Buku?

Kami siap membantu Anda mewujudkan naskah menjadi buku berkualitas berstandar ISBN.

Hubungi Kami